Ketulusan Hati dan Daya Mistis Desa Ngadirojo, Wonogiri

Pada hari Sabtu pagi, saya terbangun dan dikejutkan oleh sebuah SMS berita duka dari salah satu staf yang paling lama di kantor. Ayahnya meninggal dunia… Hmmm, saya percaya beliau sudah diberikan kebahagian sejati. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dalam menerima kepergian beliau.

Lalu, mulailah saya hunting tiket ke Solo dan akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket Garuda keberangkatan pk 1 siang, tetapi apa daya sepertinya kebiasaan terlambat memang sulit sekali dihilangkan. Pesawat saya terlambat terbang, sehingga saya baru tiba pukul 4 sore dari seharusnya tiba pukul 2 siang di Solo. Namun, saya masih bersyukur karena pesawat sebelumnya terlambat sampai hampir 5 jam… Fiuh…  Walaupun sudah dibantu staf saya yang lain, tetapi urusan hotel menjadi isu tersendiri karena hampir semua hotel penuh oleh kongres PSSI. Untunglah saya mempunyai teman yang cukup baik mengenal Solo sehingga bisa membantu saya memperoleh hotel yang cukup aman untuk saya beristirahat.

Kepergian saya kali ini sebagai single traveller menjadi perjalanan yang menarik untuk merasakan ketulusan hati dari keluarga staf saya dan penduduk desa Ngadirojo, sekaligus merasakan aura mistis hutan Wonogiri.

Pada saat pesawat mendarat, jemputan saya terlambat karena kemacetan yang terjadi hari itu. Setelah jemputan tiba, perut saya meronta berharap segera diisi makan. Sayang, baik saya maupun supir yang menjemput saya tidak mengenal Solo dengan baik sehingga kami makan seadanya di tempat makan yang kami lewati.

Menu makan sore saya adalah Nasi Bumbung, mirip dengan nasi timbel, hanya nasinya dibungkus bambu lalu diberi ikan. Setelah makan, saya bergegas untuk berangkat menuju Wonogiri untuk melayat. Perjalanan dimulai melewati Kota Solo, yang saat itu macet, lalu menuju Wonogiri, dan terakhir melewati hutan Desa Ngadirojo, arah Pacitan. Akhirnya sampai juga saya di tempat pada pukul 7 malam. Saya diterima dengan hangat oleh keluarga besar staf saya beserta semua tetangganya selama kurang lebih 2 jam. Keramahtamahan penduduk desa membuat saya berpikir, apakah kita yang tinggal di kota besar, saking sibuknya, kadang-kadang tidak menyadari bahwa perhatian lebih penting daripada sekadar menyumbang uang di saat teman, kerabat, atau rekan kerja kita sedang dalam kedukaan? Kemacetan dan kesibukan seringkali menjadi alasan… Hmmm…

Pada saat berpamitan, salah satu kerabat staf saya memberitahukan sesuatu hal yang sangat serius kepada supir bahwa setiap kali kita akan melewati jembatan, supir tersebut harus membunyikan klakson sebagai tanda mohon izin melewati daerah tersebut. Saya jadi sedikit terdiam dan berpikir apa kemungkinan yang akan terjadi pada kami berdua bilamana supirnya lupa? Ternyata banyak sekali kejadian misterius yang dapat terjadi bilamana kita lupa meminta izin untuk melewati jembatan tersebut. Salah satunya adalah “jalan maya”, yaitu jalan yang sebenarnya tidak ada secara fisik, tetapi ada di dalam bayangan mata kita saja. Memang benar kata pepatah, “Di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”.

2 thoughts on “Ketulusan Hati dan Daya Mistis Desa Ngadirojo, Wonogiri

  1. Cerita pengalaman yang menarik. Saya asli Solo dan semasa kecil pernah beberapa kali bersama ayah saya ke Wonogiri karena bisnis ayah di situ.

    Sekarang saya di Bandung. Bekerja di pinggiran timur Bandung. Tinggal di Bandung Selatan.
    Bandung sudah dipenuhi pula dengan hiruk pikuk. Faktor akses yang mudah dari Jakarta merupakan salah satu penyebabnya; keramaian Jakarta ditularkan ke kota ini.

    Semakin bertambah usia, ditambah dengan share dari bos saya soal bagaimana hidup, mulai saya makin pasti dengan apa yang penting dalam hidup ini.
    Bos yang sudah menjelang usia 65 tahun, anak-anaknya telah mandiri, bahkan yang seorang baru saja menikah akhir bulan lalu, menasihati saya bahwa bagaimana menggunakan waktu menentukan kebahagiaan kita. Dia menyarankan saya agar segera pulang selepas jam kerja agar punya waktu bersama keluarga, karena saya sering pulang kira-kira pukul 19.
    Hal lain yang dinasihatkan adalah bahwa kita harus hidup “as simple as we can” – bukan berarti sekedar sederhana, merasa cukup dengan yang ada, namun perlu mengurangi “keterikatan” dengan hal-hal yang nantinya justru membuat kita tidak bisa tenang. Contohnya adalah kesibukan kita sehari-hari, didukung dengan teknologi. Email yang tiap hari mendatangi kotak surat, BlackBerry selalu berbunyi meminta perhatian, supplier atau kolega menghubungi untuk membicarakan bisnis, telah “mengikat” kita. Dan suatu saat tidak bisa melepaskan kita jika kita tidak mengantisipasinya. Di samping membentuk stress pada kita, ia lambat laun namun pasti mengubah kita. Sampai suatu saat kita tersadar, bahwa ini bukan hidup yang kita maui.
    Saya tidak anti kesibukan dan teknologi, namun justru senang dengan semua kecangihan yang manusia telah ciptakan. Itu prestasi kita.

    Tadinya hanya ingin menulis komentar sederhana, tapi jadinya sharing. Sorry kalau tidak relevan atau menimbulkan gangguan. Salam. Gbu.

Leave a Reply to Herry Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>